Sabtu, 18 Mei 2013

Pengaruh Suhu Lingkungan Terhadap Konsumsi Ransum Ayam Broiler


BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
Suhu merupakan salah satu faktor lingkungan fisik yang dapat mempengaruhi konsumsi ransum ternak broiler selain faktor lainnya. Penurunan maupun peningkatan suhu lingkungan akan berperan penting dalam konsumsi ransum, yang pada akhirnya akan mempengaruhi pertambhan bobot badan ternak broiler. Umumnya penurunan suhu lingkungan akan meningkatkan konsumsi ransum dan peningkatan suhu lingkingan akan menurunkan konsumsi ransum. Hal ini akan saling berhubungan dengan proses penyeimbangan suhu tubuh ternak broiler dalam usaha mempertahankan suhu tubuhnya.
I.2 Rumusan Masalah
Bagaimanakah hubungan antara perubahan suhu lingkungan terhadap konsumsi ransum ayam pedaging ( broiler ) ?
I.3 Tujuan Penulisan
Mamahami tentang hubungan perubahan suhu lingkungan terhadap pertambahan bobot badan ternak broiler dan memahami tentang respon tubuh ternak broiler terhadap perubahan suhu lingkingan.






BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Ayam Pedaging ( Broiler )
Broiler merupakan istilah untuk memberi sebutan kepada ayam ras potong atau ayam pedaging jenis jantan atau betina yang berumur sekitar 6-8 minggu yang dipelihara secara intensif agar diperoleh produksi optimal (Irawan, 1996). Sedangkan menurut Murtidjo (2003), bahwa daging ayam broiler dipilih sebagai salah satu alternatif, karena seperti yang telah diketahui bahwa broiler sangat efisien diproduksi.  Jangka waktu 6-8 minggu ayam tersebut sanggup mencapai berat hidup 1,5 kg – 2 kg dan secara umum dapat memenuhi selera konsumen.
Menurut Rasyaf (2004), ayam pedaging adalah ayam jantan dan betina muda yang berumur di bawah 8 minggu ketika dijual dengan bobot tubuh tertentu, mempunyai pertumbuhan yang cepat serta mempunyai dada yang lebar dengan timbunan daging yang baik dan banyak.  Kelebihan broiler sebagai ayam pedaging adalah broiler yang berusia 6 minggu sudah sama besarnya dengan ayam kampung dewasa dan bila dipelihara hingga berusia 8 bulan, bobotnya dapat mencapai 2 kg.  Berat sebesar itu sulit dicapai oleh ayam kampung dewasa maupun ayam ras afkir usia 1,5 tahun.  Selain itu masyarakat juga mengenal broiler karena mempunyai rasa yang khas, empuk dan dagingnya banyak.
Hardjoswaro dan Rukminasih (2000) menyatakan bahwa ayam broiler dapat digolongkan ke dalam kelompok unggas penghasil daging artinya dipelihara khusus untuk menghasilkan daging.  Umumnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut: kerangka tubuh besar, pertumbuhan badan cepat, pertumbuhan bulu yang cepat, lebih efisien dalam mengubah ransum menjadi daging.
Rasyaf (2004) juga menyatakan bahwa ayam dan jenis unggas lainnya membutuhkan sejumlah nutrisi yang lengkap untuk menunjang hidupnya, untuk pertumbuhan dan untuk berproduksi.  Unggas membutuhkan lebih dari 40 material kimiawi yang diklasifikasikan ke dalam enam kelas yakni karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral dan air. Semuanya harus ada dalam ransum yang dimakan kemudian dinyatakan bahwa kandungan nutrisi pada fase starter mengandung protein 19,5 – 21,2 %, energi metabolisme 2851 – 3180 kkal/kg ransum sedangkan finisher protein 22,0 – 22,7 % dan energi metabolisme 3290 – 3399 kkal/kg ransum.

Konsumsi Ransum
Konsumsi pakan merupakan ukuran untuk mengetahui jumlah pakan yang dikonsumsi seekor ternak setiap ekor per hari.  Kebutuhan unggas yang paling utama yaitu energi dan protein, sedikit vitamin dan mineral.  Zat-zat tersebut diperoleh unggas dari pakan/ransum yang dikonsumsi setiap hari (Wahyu, 1984).
Konsumsi ransum merupakan kegiatan masuknya sejumlah unsur nutrisi yang ada di dalam ransum yang telah tersusun dari berbagai bahan makanan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ayam broioler (Rasyaf, 1994). Menurut Tilman, dkk (1986), sifat khusus unggas adalah mengkonsumsi pakan untuk memperoleh energi sehingga pakan yang dimakan tiap harinya cenderung berhubungan dengan kadar energinya. Wahyu (1984) menyatakan bahwa konsumsi akan meningkat bila diberi ransum yang berenergi rendah dan menurun bila diberi ransum yang berenergi tinggi. Banyak faktor yang mempengaruhi konsumsi ransum broiler diantaranya besar dan bangsa ayam, luas kandang, tingkat energi dan protein dalam ransum. Church (1979), menyatakan bahwa faktor yang dapat mempengaruhi konsumsi adalah palatabilitas. Palatabilitas dipengaruhi oleh bau, rasa, tekstur dan warna pakan yang diberikan.
Konsumsi ayam dapat pula dipengaruhi oleh kapasitas tembolok. Meskipun kebutuhan energinya belum terpenuhi, namun ayam akan berhenti makan apabila temboloknya sudah penuh (Tilman, dkk, 1986). Rasyaf (1992), menyatakan bahwa tembolok merupakan alat pencernaan pertama sebelum masuk ke proses berikutnya.  Sebagai alat pencernaan pertama yang sifatnya sebagai penampung, kapasitas tembolok tidak banyak atau terbatas.
Cahyono (2001) menyatakan bahwa ransum yang baik harus mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral dalam jumlah berimbang. Selain memperhatikan kualitas pemberian ransum juga harus sesuai dengan umur ayam karena nilai gizi dan jumlah ransum yang diperlukan pada setiap pertumbuhan berbeda. Selanjutnya dinyatakan bahwa fungsi makanan yang diberikan pada dasarnya untuk memenuhi kebutuhan pokoknya, membentuk jaringan tubuh, mengganti bagian-bagian yang rusak dan selanjutnya untuk keperluan produksi.
Bahan makanan yang tersedia dan terbanyak dimakan oleh bangsa unggas berasal dari biji-bijian, limbah pertanian, dan sedikit dari hasil hewani serta perikanan.  Oleh karena itu, bahan makanan yang digunakan hendaknya tidak bersaing dengan kebutuhan manusia dan mudah didapatkan serta harganya relatif murah (Rasyaf, 2004).
Kebutuhan nutrisi broiler periode starter dan finisher sesuai Standar Nasional Indonesia (2006) dapat dilihat pada Tabel 1 dan 2, sebagai berikut :
Tabel 1. Kebutuhan Nutrisi Broiler Periode Starter
No.
Parameter
Satuan
Persyaratan
1.
Kadar air 
%
Maks. 14,0
2.
Protein kasar
%
Min. 19,0
3.
Lemak kasar
%
Maks. 7,4
4.
Serat kasar
%
Maks. 6,0
5.
Abu
%
Maks. 8,0
6.
Kalsium (Ca)
%
0,90 – 1,20
7.
Fosfor (P) total
%
0,60 – 1,00
8.
Energi Metabolisme (EM)
Kkal/Kg
Min. 2900
              Sumber : Standar Nasional Indonesia (2006)a

Tabel . Kebutuhan Nutrisi Broiler Periode Finisher
No.
Parameter
Satuan
Persyaratan
1.
Kadar air 
%
Maks. 14,0
2.
Protein kasar
%
Min. 18,0
3.
Lemak kasar
%
Maks. 8,0
4.
Serat kasar
%
Maks. 6,0
5.
Abu
%
Maks. 8,0
6.
Kalsium (Ca)
%
0,90 – 1,20
7.
Fosfor (P) total
%
0,60 – 1,00
8.
Energi Metabolisme (EM)
Kkal/Kg
Min. 2900
              Sumber : Standar Nasional Indonesia (2006)b
II.2 Suhu Sebagai Faktor Lingkungan Fisik
Pengaruh Unsur-Unsur Lingkungan Fisik Terhadap Produktivitas Penampilan Ternak :
1.      Temperatur (Suhu Udara)
Temperatur  udara sangat penting sebagai faktor bioklimatik dalam lingkungan fisik ternak. Temperatur udara disekitar ternak sangat penting untuk kenyamanan ternak dan fungsi-fungsi proses fisiologisnya. Secara normal panas tubuh ternak akan dilepas secara konduksi melalui permukaan kulit (panas ternak 330 C) ke udara yang lebih dingin disekitarnya. Tetapi temperatur udara yang berada diatas kisaran kenyamanan (130-180 C) maka pelepasan panas menurun dan apabila temperatur  udara melebihi temperatur kulit maka aliran panas akan terjadi berlawanan arah. Temperatur dapat membuat ternak hidup nyaman, kepanasan maupun kedinginan. Ternak yang hidup didaerah tropis umumnya banyak yang kepanasan, sumber panas selain dari matahari adalah pancaran panas dari tanah. Pancaran panas dari tanah kering paling besar terjadi pada sore hari, yang mana waktu tersebut bersamaan dengan mulainya ternak yang akan digembalakan. Didaerah yang agak kering (semi arid) dan kering (arid) temperatur udara mencapai di atas 400 C. Temperatur tersebut sangat mencekam kehidupan ternak terutama pada bagian tubuh sebelah bawah (ventral). Walaupun demikian panas yang berasal dari pantulan tanah cepat menghilang atau menurun, karena matahari juga cepat tenggelam, inipun memberikan keuntungan pada ternak untuk melepas dengan cepat panas tubuh yang tertimbun dengan cara konduksi ke tanah yang sudah dingin. Cekaman yang berlangsung terus-menerus mengakibatkan  kaki ternak menjadi panjang dan tubuhnya tidak dapat gemuk seperti halnya ternak-ternak di daerah dingin.
Pola temperatur udara yang berlaku juga dipengaruhi oleh ketinggian tempat. Temperatur  udara cenderung menurun 0,650 setiap 100 m kenaikan tinggi tempat dari permukan  laut. Kecepatan angin dan sumber angin mempunyai arti penting terhadap tempertatur udara yang berlaku.
2.      Kelembaban Udara
Kelembaban udara bersama-sama dengan temperatur udara berpengaruh terhadap fisiologis ternak. Temperatur udara tinggi, kelembaban tinggi maupun temperatur udara rendah dan kelembaban udara rendah tidak baik bagi kehidupan ternak. Temperatur optimal untuk ternak 130 C-180 C ( McDowell,1977) dan 220 C - 270 C ( Ames dan Ray,1983) dengan kelembaban udara sedang maka akan menghasilkan daerah yang nyaman bagi kehidupan ternak. Pelepasan udara pada tubuh ternak dapat dilakukan secara radiasi, konveksi,  konduksi dan evaporasi. Pelepasan udara tubuh yang bergantung pada kelembaban udara adalah secara evaporasi. Pelepasan udara secara evaporasi dapat dikeluarkan melalui permukaan kulit ataupun saluran pernapasan. Kelambatan atau kecepatan pelepasan tubuh secara evaporasi akan mengganggu keseimbangan panas tubuh. Alat untuk mengukur kelembaban udara yang sederhana dapat berupa pola basah dan bola kering.
Alat pengukur kelembaban, tekanan dan tempertur udara sudah banyak diperjual-belikan. Dengan alat ini kita dapat mengidentifikasi daerah kenyamanan. Kelembaban udara maksimum terjadi pada pagi hari sedangkelembaban udara minimum dicapai pada sore hari. Ternak yang selalu ada didalam kandang perlu diperhatikan kelembabannya.
3.      Energi Radiasi
Ternak di daerah tropis perlu diadakan pengontrolan keseimbangan panas tubuhnya. Radiasi yang datang bisa berasal dari matahari, hewan, tumbuhan dan benda-benda lain yang memantulkan sinar. Energi radiasi yang diterima saling di pantulkan, sehingga menyebabkan suhu udara menjadi meningkat. Secara umum energi radiasi mempunyai korelasi negatif dengan kelembaban, tetapi level radiasi mempunyai korelasi positif dengan temperatur maksimum. Permukaan yang berwarna putih banyak memantulkan sinar, bagi ternak yang berbulu putih lebih tahan di gembalakan dari pada yang berwarna lainnya. Ternak yang berwarna hitam lebih mudah terengah-engah sewaktu berada di padang pengembalaan yang terkena sinar matahari langsung.
4.      Gerakan Udara
Pergerakan udara dapat juga disebut angin. Angin bergerak dari daerah padat arah udara renggang. Angin membawa panas tubuh ternak melalui pergerakannya. Laju gerakan udara bergerak di atas permukaan kulit ternak mempengaruhi laju pelepasan panas tubuh. Pelepasan panas tubuh ternak akan sulit dibawa angin apabila bulu tubuh tidak dapat di tembus atau banyak  kotoran yang melekat. Pelepasan panas tubuh ternak secara evaporasi sangat bergantung pada cepat atau lambatnya pergerakan udara di sekitar tubuh ternak. Pelepasan panas tubuh ternak akan mudah terjadi jika suhu udara sedang dan kecepatan angin tinggi. Angin akan membawa panas tubuh secara konduksi sepanjang temperatur udara rendah bila dibandingkan temperatur permukaan kulit. Akan tetapi jika pergerakan udara semakin meningkat maka radiasi matahari menjadibertambah. Angin yang mempunyai kecepatan sekitar  8 km/jam-16 km/jam didaerah panas penting untuk menolong ternak yang tercekam panas. Angin yang berhembus di malam hari dengan kecepatan sekitar 8 km/jam-16 km/jam kurang menguntungkan bagi kehidupan ternak di daerah tropis.
5.      Curah Hujan
Akibat curah hujan, kelembaban dalam kandang meningkat yang akan mengganggu kehidupan ternak. Disamping itu selama musim hujan banyak mineral tanah yang  tercuci.  Akibatnya tidak sedikit hijauan makanan ternak yang kekurangan mineral. Selama terjadi hujan, matahari kurang terang bahkan tidak mengeluarkan atau menghasilkan cahaya ke bumi. Kekurangan sinar matahari menyebabkan sistem lain menjadi terhambat. Pola hujan musiman sangat penting bagi ternak karena :
a.       Jumlah pakan yang dapat diproduksi.
b.      Panjang waktu hijauan mempertahankan kualitas.
c.       Praktek penggembalaan dapat dilakukan.
d.      Kebutuhan akan penyiraman dan suplai pakan suplemen.
e.       Tipe pengawetan pakan yang paling sesuai.

6.      Cahaya
Periode cahaya dalam satu hari dinamakan foto periode dan didefenisikan  sebagai waktu  matahari terbit dan terbenam. Cahaya sinar matahari secara fisiologis mempengaruhi tubuh ternak, cahaya yang diterima oleh mata ternak disalurkan ke hipotalamus yang dapat mensekresi hormon yang dapat berfungsi untuk melestarikan hormon-hormon lain yang di keluarkan oleh target organ. 
7.      Tekanan Udara
Di daerah tropis tekanan udara tergantung pada letak daerah. Daerah ditepi pantai tekanan udaranya lain dengan yang berada di pegunungan. Menurunnya tekanan atmosfir akan merangsang jumlah konsumsi, tetapi jika tekanan tinggi sebagian makanan yang normal diberikan tidak akan dimakan ternak. Berdasarkan hasil penelitian sapi Bali di Timor pada ketinggian tempat yang berbeda menunjukkan penampilan yang berbeda pula. Pengembangan peternakan dengan memperhatikan unsur-unsur lingkungan merupakan salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas.













BAB III
PEMBAHASAN

Suhu merupakan salah satu insur fisik dari iklim yang berperan penting dalam konsumsi ransum ayam pedaging ( broiler ). Kondisi lingkungan yang panas ataupun dingin akan sangat berperan dalam perkembangan dan pertumbuhan ternak. Hal ini dikarenakan suhu lingkungan yang berbeda atau berbeda diluar zona nyaman ternak akan mengakibatkan terjadinya stress pada ternak, yang ujung – ujungnya akan dapat mengurangi produktifitas ternak.
Jika dilihat secara langsung, maka akan terlihat adanya korelasi negatif antara perubahan suhu lingkungan dengan konsumsi ransum ayam broiler. Hal ini dikarenakan pada umumnya pada kondisi lingkungan yang lebih tinggi ( panas ) maka ternak akan mengurangi konsumsi ransum, dan pada kondisi lingkungan yang lebih rendah ( dingin ) maka ternak akan meningkatkan konsumsi ransumnya. Hal ini logis saja untuk terjadi, karena ternak akan berusaha untuk mempertahankan suhu tubuhnya dan agar dapat tetap bertahan hidup selama berada dalam kondisi suhu lingkungan yang berbeda tersebut.
Konsumsi Ransum Pada Suhu Tinggi :
Suhu lingkungan yang tinggi dapat dipengaruhi oleh banyak faktor. Ketinggian tempat dan radiasi matahari merupakan 2 hal yang dapat menjadi salah satu penyebabnya, selain beberapa faktor lainnya. Pada daerah dataran tinggi akan memiliki suhu lingkungan yang berbeda dengan daerah dataran rendah, karena pada kenaikan tempat sejauh 100 m diatas permukaan laut makan akan disertai dengan penurunan suhu sebesar 10 C. Pada daerah dengan tingkat radiasi tinggi atau lebih dikenal dengan nama daerah khatulistiwa akan memiliki suhu lingkungan yang lebih tinggi ( panas ) dari pada daerah lainnya yang berada jauh dari garis khatulistiwa, terutama pada daerah kutub.
Suhu lingkunga atau kandang yang terlalu panas perlu untuk diperhatikan oleh peternak ayam pedaging ( broiler ), karena pada kondisi lingkungan yang panas maka untuk menyeimbangkan suhu tubuhnya ternak akan mengurangi konsumsi ransumnya. Mengapa ?. Pada suhu lingkungan yang panas, otomatis suhu tubuh ayam akan susah untuk dikeluarkan karena suhu tubuh ternak lebih rendah dari pada suhu lingkungaa. Artinya sirkulasi panas tubuh kelingkungan tidak bisa dilakukan. Ayam broiler akan berusaha untuk mengurangi aktivitas tubuhnya baik aktivitas fisik maupun metabolismenya, ini dilakukan untuk mengurangi panas metabolisme ( heat increament ) tubuhnya. Sehingga dapat seimbang dengan lagi dengan suhu lingkungannya. Konsumsi ransum berenergi yang lebih sedikit secara otomatis juga akan mengurangi aktivitas metabolisme pakan didalam tubuh, sehingga dapat mengurangi produksi panas metabolisme.
Pada suhu panas ayam juga akan mengonsumsi air yang lebih banyak. Untuk dapat menyeimbangkan suhu tubuhnya. Konsumsi air yang berlebih akan berkorelasi dengan kapasitas saluran pencernaan ternak yang lebih cepat untuk penuh. Ketika saluran pencernaan sudah penuh, maka ternak ayam akan secara otomatis berhenti untuk makan, karena saluran pencernaannya sudah tidak bisa menampung pakan lagi.
Kondisi ini sudah tentu akan dapat mengurangi produksi ternak dan mengurangi keuntungan bagi peternak. Pada saat suhu lingkungan yang panas menyebabkan konsumsi ransum menurun, otomatis ternak tidak ada energi yang termanfaatkan untuk bisa disimpan dalam tubuh baik dalam bentuk daging maupun lemak. Jika tidak ada energi yang tersimpan akan berpengaruh pada pertambahan bobot badan ternak yang melambat, dan akhirnya menyebabkan kerugian secara ekonomi kepada para peternak.
Konsumsi Ransum Pada Suhu Rendah :
Selain suhu tinggi ( panas ), suhu lingkungan yang lebih rendah juga akan mempengaruhi konsumsi ransum ternak ayam pedaging ( broiler ). Secara umum pada kondisi suhu yang lebih rendah maka ayam akan mengonsumsi pakan yang lebih banyak, karena ayam membutuhkan energi yang lebih tinggi untuk mempertahankan suhu tubuhnya tetap seimbang dengan lingkungan.
Ketika suhu lingkungan lebih rendah, otomatis proses pelepasan panas dalam tubuh ternak akan menjadi lebih mudah. Karena pelepasan panas tubuhnya yang jauh lebih mudah maka ternak akan membutuhkan energi yang lebih tinggi lagi untuk tetap mempertahankan suhu tubuhnya. Konsumsi ransum yang lebih tinggi atau konsumsi energi dalam ransum yang lebih tinggi akan menyebakan proses metabolisme dalam tubuh berlangsung lebih baik dan cepat, sehingga tubuh ternak dapat memproduksi panas tubuh yang lebih besar pula.
Jika dilihat dari sisi keseimbangan panas tubuh ternak, maka akan terlihat hubungan yang positif karena konsumsi ransum yang tinggi akan menyebabkan produksi panas tubuh yang lebih banyak juga. Namun jika dilihat dari konversi dan efiseinsi pakan yang dibutuhka untuk mendapatkan panas tubuh yang tetap seimbang dengna suhu lingkungan yang lebih rendah, maka akan terlihat korelasi yang yang negatif. Hal ini dikarenakan untuk dapat menyeimbangkan suhu tubuhnya dan memproduksi panas tubuh yang lebih tinggi, maka ternak membutuhkan energi dalam ransum yang lebih tinggi pula. Energi yang didapatkan dari dalam pakan hanya dipergunakan untuk memproduksi panas tubuh, tanpa ada yang dikonversi menjadi daging atau otot. Pertubuhan ternjak juga bisa menjadi bernilai minus atau 0, karena tidak ada energi yang dapat dipergunakan untuk melanjutkan pertumbuhan. Energi yang ada hanya dapat dipergunakan untuk mempertahankan suhu tubuh dan memenuhi kebutuhan pokok ( maintenance ).
Dilihat dari sisi ekonomi dan keuntungan bagi peternak, sudah jelas akan terjadi keruguian besar. Karena peternak akan membutuhkan pakan yang berenergi tinggi dan bahkan dengan jumlah yang lebih besar. Kondisi ini akan meningkatkan biaya produksi. Sedangkan konversi energi dalam ransum oleh ternak untuk menjadi daging ataupun lemak sama sekali tidak ada. Bahkan mungkin saja ternak mengalami pertumbuhan 0 kg.








BAB IV
KESIMPULAN

1.       Pada suhu lingkungan yang lebih tinggi ( panas ) maka ternak akan berusaha mempertahankan suhu tubuhnya dengan mengonsumsi ransum yang lebih sedikit dan mengonsumsi air yang lebih banyak. Kondisi ini akan menyebabkan tidak ada energi yang tersisa dari ransum yang dapat dikonversi menjadi daging, sehingga ternak seolah – olah ternak tidak mengalami pertumbuhan. Secara ekonomi hal ini jelas akan menyebabkab kerugian bagi peternak.
Pada suhu lingkungan yang lebih rendah, ternak ayam pedaging ( broiler ) akan membutuhkan ransum dengan kuantitas yang lebih tinggi. Kandungan energi ransum juga akan menjadi lebih tinggi. Namun energi ransum yang lebih tinggi hanya akan dipergunakan untuk memproduksi panas tubuh, untuk menyeimbangkan suhu tubuhnya dengan suhu lingkungan. Hal ini juga akan mengurangi produksi, karena tidak ada energi yang tersisa untuk disimpan sebagai daging. Secara ekonomi hal ini sudah tentu akan dapat mengurangi keuntungan bagi peternak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar